Kita Dipanggil untuk Hidup bersama Allah

 🆁🅰🅶🅸 Jumat, 2 Juli 2021.
PEKAN BIASA XIII
• Kej. 23:1-4.19.24:1-8.62-67; 
• Mzm. 106:1-2.3-4a.4b-5; 
• Mat. 9:9-13.
Jumat Pertama

Kita Dipanggil untuk Hidup bersama Allah 

Orang Kristiani, baik secara pribadi maupun sebagai komunitas, dipanggil untuk hidup bersama Allah. Bagaimana itu diwujudkan dalam kehidupan, lewat Bacaan Suci hari ini kita diajak untuk meneladan dua tokoh, yaitu Rasul Matius dan Abraham, Bapa (model) orang beriman. 
    Oleh masyarakat Yahudi, pemungut cukai dianggap sebagai pemeras rakyat, pengkhianat bangsa, dan terhitung dalam golongan “orang berdosa” yang harus dijauhi. Matius termasuk dalam golongan itu. Mungkin, itulah sebabnya ia tidak berpikir lama ketika dipanggil oleh Tuhan Yesus saat ia sedang bekerja di pos pemungutan cukai. Ajakan Yesus “Ikutlah Aku” membuat Matius terhenyak. Suatu misteri besar memicu rasa rindu dalam hatinya: rindu akan sukacita, damai dan harapan yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Dalam Injil dikisahkan, Matius segera “bangkit” (kata yang digunakan seperti Yesus “bangkit” dari mati) lalu mengikuti Yesus. Matius percaya, inilah saatnya ia akan mendapatkan keindahan hidup sebagai orang yang bermartabat. 
    Setelah berkeputusan akan mengikuti Yesus, Matius rupanya mengundang rekan-rekannya untuk makan bersama sebagai perpisahan dengan mereka. Ia akan melepaskan profesinya sebagai pemungut cukai dan meninggalkan hidupnya yang nyaman dan berkelimpahan itu untuk menjadi murid Yesus. Ia juga ingin berbagi pengalaman dengan teman-temannya, bagaimana rasanya makan bersama dengan Sang Mesias beserta murid-murid-Nya. Tentu ia berharap, di antara temannya ada juga yang tertarik untuk mengikuti Yesus.
    Ketika orang Farisi melihat Yesus makan bersama para pemungut cukai, mereka berkata kepada para murid: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" (Mat 9:11). Perkataan ini mengungkapkan rasa heran sekaligus sikap permusuhan, sikap angkuh dan merendahkan orang lain.
   Jawaban Yesus sangat tajam, dengan mengutip sabda Yahwe dalam kitab Hosea: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Artinya, menjalin relasi kemanusiaan (belas kasihan) lebih penting daripada melakukan persembahan yang sekadar upacara belaka, tanpa menghayati makna yang sebenarnya. Yesus mengecam sikap orang Farisi yang menganggap dirinya paling benar dan suci, tidak mau mengakui kekeliruannya lalu memperbaiki diri. Yesus berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. … Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." 
    Yesus, Sang Tabib Ilahi, menemukan Matius dan menawarkan padanya kesembuhan jiwa yang akan membuat dia mengalami kebahagiaan sejati. Matius menerima tawaran itu, dan dengan hidup bersama Yesus selama tiga tahun, ia menemukan apa yang ia dambakan: yakni hidup bermartabat sebagai anak Allah. – Tuhan Yesus juga mengajak kita untuk hidup bersama Dia. Ia menyembuhkan kita, memberi kita sukacita, damai dan harapan, apapun penyakit kita, asalkan kita mau mengakui bahwa kita berdosa (sakit), dan bersedia untuk melakukan perubahan.

Dalam Bacaan Pertama kita sampai pada masa akhir perjalanan hidup Abraham. Abraham selalu setia hidup bersama Allah, mengikuti bimbingan-Nya, dan berharap akan pemenuhan janji Allah bahwa seluruh tanah Kanaan akan menjadi miliknya, dan bahwa ia akan memiliki banyak keturunan untuk menempati negeri itu. 
    Kini “Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal.” (Kej 24:1). Abraham kaya raya, memiliki banyak ternak, dengan banyak hamba yang melayaninya. Ia juga dihormati oleh penduduk setempat, yang menganggapnya “raja agung” (“pangeran”, Kej 23:6). Namun, dua janji Allah itu masih belum terlihat tanda-tanda pemenuhannya. Selama ini ia tinggal di kemah sebagai orang asing di Kanaan, dan tidak punya hak milik atas sejengkal tanah pun di negeri itu. 
    Suatu ketika Sara meninggal (pada umur 127 tahun). Abraham membeli sebidang tanah dan gua untuk menguburkan istrinya itu. Dengan memiliki sebidang tanah makam di Kanaan, Abraham berhak menjadi penduduk tetap di negeri itu. Abraham dan keturunannya akan dimakamkan di tanah itu. (Pada masa itu, orang sangat ingin dikuburkan di makam leluhurnya).
    Selanjutnya, fokus perhatian Abraham ialah mencarikan istri bagi Ishak, anak satu-satunya yang dari Sara. Ia menyuruh hambanya untuk mencarikan jodoh bagi Ishak, dengan pergi ke negeri asal Abraham di Mesopotamia. Berkat bimbingan Allah, hamba itu berhasil kembali dengan membawa Ribka (Rebeka), gadis kerabat Abraham. Ishak pun menerima Ribka sebagai istrinya. “Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.” (Kej.24:67)
    Penjodohan Ishak dengan Ribka serta pembelian tanah makam itu menunjukkan komitmen Abraham pada janji Allah. Memang, bahwa ia akan memiliki seluruh tanah Kanaan dan memperoleh banyak keturunan itu masih jauh di masa depan. Itu kita tahu dari sejarah bangsa Israel. Tetapi Abraham tetap setia berharap, dan terus mengarahkan diri untuk hidup bersama Allah dan menaati perintah Junjungannya.
    Dalam masa pandemi ini, ketika pola berpikir serta kebiasaan hidup kita mengalami banyak perubahan mendasar, jangan sampai kita kehilangan arah. Marilah kita belajar dari Abraham. Apapun situasi yang kita hadapi, kita selalu hidup bersama Allah, sebagaimana diperintahkan TUHAN kepada Abraham: "Akulah El Saddai (Allah “yang dapat melakukan apa saja tanpa batas”, Yang Mahakuasa), hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.” (Kej 17:1).

Tuhan Yang Mahakuasa, semoga dalam situasi apapun aku dapat melihat bimbingan-Mu yang meneguhkan. Buatlah agar aku pun sanggup menguatkan hati orang yang sedang mengalami kesulitan. Amin.

Selamat pagi. Selamat merayakan Ekaristi dan Adorasi Jumper. Selamat beraktivitas dengan mematuhi Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak