Mangaplikasikan Iman Dalam Situasi Sulit, Seperti Pandemi Dan Keadaan Politik Yang Tidak Menentu.

Mangaplikasikan Iman Dalam Situasi Sulit, Seperti 
Pandemi Dan Keadaan Politik Yang Tidak Menentu.

Saat kita menderita, ketika Tuhan seakan jauh dari kita, kekuatan iman akan mengubah penderitaan menjadi pencerahan, sehingga kita lebih mengenal Tuhan dan mengenal diri kita sendiri, pencerahan yang menguatkan hati. Itulah kenyataan hidup yang diungkap dalam kisah Tobit (Bacaan pertama hari ini.) 
    Tobit adalah orang Yahudi yang setia beriman kepada Allah, meski ia berada di bawah tekanan bangsa asing di tanah pembuangan. Ia dibuang ke Niniwe, sedangkan Raguel kerabatnya ke tanah Midian.
   Anak Tobit satu-satunya, yaitu Tobia, sedang pergi ke kota Ekbatana di tanah Midian dengan ditemani oleh Azarya (yang sebenarnya adalah Malaikat Rafael). Ia diutus untuk mengambil uang ayahnya yang dititipkan pada Raguel. Ketika pulang, Tobia membawa tiga anugerah Allah: uang ayahnya itu; empedu ikan yang diambilnya untuk obat kebutaan; dan yang terutama Sara, anak Raguel, yang dia boyong sebagai istrinya.
     Sesampai di depan rumah, dalam suasana haru Tobit disembuhkan dari kebutaan yang telah dideritanya. Empedu pahit itu digunakan untuk membuka selaput yang menutup mata Tobit. Sebelumnya, ia pernah mohon untuk mati saja daripada menderita kebutaan dan hinaan, tetapi kemudian ia memutuskan untuk menanggung semua itu dengan iman dan kesabaran. Kini, kesabaran itu membuahkan sukacita. Kepahitan hidup telah membuka mata imannya untuk melihat karya Tuhan di tengah masyarakat yang tidak mengenal Allah.
    Dengan gembira Tobit memuji Tuhan: “Hendaklah nama Tuhan yang besar ada di atas kita dan terpujilah hendaknya segala malaikat untuk selama-lamanya. Sungguh aku telah disiksa oleh Tuhan, tetapi kulihat anakku Tobia!" (Tob 11:14). Anak menantunya pun ia sambut seperti anaknya sendiri. Ibu Tobia bahkan rela mati karena sudah melihat anaknya pulang dengan selamat.
    
Pada zaman Yesus, orang Israel juga mengalami situasi sulit di bawah penjajahan Roma. Melihat Yesus yang penuh kuasa, dengan ajaran-Nya yang memukau, mereka berharap Yesus akan menjadi Mesias yang memimpin mereka untuk mengusir penjajah dan membangun kembali Kerajaan Daud.
    Dalam Injil hari ini Yesus menantang anggapan bahwa Mesias itu derajat-Nya tidak lebih dari Daud. Yesus menunjukkan bahwa Daud sendiri memanggil Raja Mesias itu “Tuanku”, sebagaimana tertulis dalam Mazmur (110:1): “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu.” (Menurut anggapan waktu itu, Mazmur ditulis oleh Daud).
   Yesus menyatakan bahwa Mesias itu berasal dari Allah, sehingga Daud menyebut Dia “Tuanku”. Dalam Injil bahasa Yunani, untuk kata “Tuhan” maupun “Tuan” digunakan satu kata yang sama, Kyrios, sebutan yang hanya diperuntukkan bagi Allah. Yesus adalah Mesias setara dengan Allah, yang duduk di sebelah kanan Allah dan akan menghancurkan musuh-musuh-Nya.
    Ketika Yesus menyatakan jati diri-Nya itu, “Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat (semangat),” (Mrk 12:13). Orang-orang itu percaya, Yesus adalah tangan kanan Allah yang akan mengalahkan para penjajah. 

Bagaimana dengan kita? Kita lebih mengenal Tuhan Yesus dan ajaran-Nya. Bagaimana selama ini iman dan harapan kita pada kasih dan kuasa-Nya, terlebih di waktu kita mengalami penderitaan, khususnya pada masa pandemi, yang menyebabkan banyak orang mengalami kesulitan hidup?
    Kita diajak untuk meneladan Tobit. Sebelum buta, Tobit sangat peduli dan melayani orang-orang Yahudi, saudara sebangsa yang sama-sama menderita di tempat pembuangan. Selama ia buta, Tobit menempuh semua kesulitan hidupnya dengan penuh kesabaran dan dengan iman yang tak tergoyahkan. 
     Jika kita teguh dalam iman, dari situasi yang buruk kita dapat memperoleh sesuatu yang berharga. Banyak hal baru dan bermanfaat muncul seiring dengan berbagai kesulitan di masa pandemi ini, baik dalam kehidupan masyarakat umum maupun dalam komunitas Gereja. Karena percaya pada pertolongan Tuhan, kita tidak kenal putus asa dalam menghadapi tiap kesulitan; kita dipanggil untuk terus memberikan solusi atas penderitaan sesama kita. 
    Agar iman kita semakin hidup, seiring dengan segala aktivitas, kita mesti melakukan kontak pribadi dengan Tuhan, “mendengarkan Dia dengan penuh semangat,” menyerahkan segala beban kita di hadapan-Nya. Kita juga mohon bantuan Bunda Maria dan St. Yusuf, ibu dan bapa penolong kita. 

Ya Yesus Tuhan, Engkaulah andalanku yang penuh kasih dan kuasa. Jauhkan aku dari rasa khawatir dan putus asa di saat mengalami kesulitan. Topanglah aku agar sanggup meringankan beban saudaraku yang menderita. Amin. (Bacaan : • Tob. 11:5-17; - • Mrk. 12:35-37.) Ikuti terus renungan di 

Selamat merayakan Ekaristi Jumper. Selamat beraktivitas. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr
 🆁🅰🅶🅸 Jumat, 4 Juni 2021.
PEKAN BIASA IX
• Tob. 11:5-17; 
• Mzm. 146:2abc.7.8-9a. 9bc-10; 
• Mrk. 12:35-37.
Jumat Pertama

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak