🆁🅰🅶🅸 Sabtu, 3 Juli 2021.
Pesta St Thomas, Rasul :
• Ef. 2: 19-22;
• Mzm. 117: 1. 2;
• Yoh. 20: 24-29.
THOMAS, PERAGU?
Hari ini Gereja merayakan pesta St Thomas Rasul. Thomas - yang juga disebut Didimus (=kembar) - adalah seorang nelayan. Tetapi ia tidak mempunyai perahu sendiri seperti Petrus dan Andreas. Hidupnya hampir serba kurang. Itulah yang menyebabkan dia selalu bersikap hati-hati, tidak mudah percaya, suka ragu dan kadang pesimis. Sikapnya itu terlihat dengan jelas ketika para Rasul lainnya bercerita bahwa TUHAN YESUS benar telah bangkit dan mereka telah melihat-NYA ketika datang menemui mereka suatu hari. Tetapi Thomas tidak mudah percaya, katanya: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-NYA dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-NYA, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yoh. 20:25).
Thomas yang peragu lebih sering merasuki pikiran kita. Namun, ia bukan type manusia yang penakut, justru sebaliknya. Dialah yang memberi semangat kepada sesama murid yang mau mundur karena tahu bahwa YESUS bakal menghadapi kematian di Yerusalem. Tanpa ragu-ragu, ia pun berkata: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan DIA". (Yoh.11:16). Tetapi ketika YESUS sungguh mengalami kematian secara tragis, imannya jadi guncang. Ia bimbang dan tidak percaya lagi pada nubuat-NYA. Namun berkat keterbukaannya terhadap bimbingan-NYA, imannya menjadi teguh kembali dan ia menjadi murid YESUS yang sejati. Ia dikuatkan oleh ROH-NYA hingga kuat menanggung berbagai resiko hingga ia jadi pewarta yang hebat sampai ke India, dan ia mati ditusuk tombak.
Apakah salah keraguan Thomas itu? Ia memang dikenal sebagai murid yang suka bertanya kepada Gurunya tentang sesuatu yang menurutnya dia belum mengerti. Jadi sifat Thomas itu polos dan terus terang, tidak malu-malu dan tidak munafik menyatakan keterbatasannya. Dan sikap ini justru dihargai TUHAN YESUS, dan karena keingintahuannya itulah TUHAN YESUS menyingkapkan rahasia iman yang mendalam. Pada malam perjamuan akhir ketika DIA berpamitan, Thomas bertanya dengan polos: "TUHAN, kami tidak tahu ke mana ENGKAU pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" (Yoh.14:5).
Keraguan Thomas itu mengundang YESUS untuk mengungkapkan rahasia TRITUNGGAL: "AKU-lah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tak seorang pun datang kepada BAPA, kalau tidak melalui AKU... Barangsiapa telah melihat AKU, ia telah melihat BAPA." (Yoh. 14:6,9).
Belajar hal positif dari sikap Thomas ini, bahwa kita tidak boleh berdiri di atas keraguan, tetapi keraguan menjadi cara sekaligus kesempatan kita untuk terus mempertanyakan segala sesuatu sampai tidak bisa dipertanyakan. Artinya, sampai menemukan kebenaran sejati Sekalipun tentang sesuatu yang tidak bisa dilihat, kita dituntut untuk percaya saja. Tetapi proses menuju iman seperti itu tetap harus bisa dimengerti secara rasional. Fides quaerens intellectum (=iman mencari pemahaman). Dengan demikian iman kita tidak buta dan tidak membabi buta pula dalam penghayatannya.
Thomas mewakili sifat orang yang selalu menuntut bukti dan bukan sekadar omongan indah yang menakjubkan. Penampakan YESUS yang spesial kepada Thomas mengajarkan kita akan perbedaan yang mendasar antara "kepercayaan ilmiah" yang didasarkan pada bukti indrawi dan "kepercayaan iman" yang didasarkan pada pengharapan dan cinta. Sekalipun tidak melihat TUHAN, orang yang beriman tetap percaya bahwa apa yang dikatakan-NYA adalah kebenaran dan hidup. Itu semua karena cinta.
Namun, iman kita bukan iman yang irasional (tidak masuk akal); cinta kita bukan cinta buta! Kita beriman kepada-NYA karena kita tahu betul dan sungguh merasakan betapa TUHAN telah menjadikan kita orang yang paling berbahagia. Kita sendiri menjadi kesaksian yang hidup akan iman kita itu dengan menghayati hidup yang berbuah damai dan sukacita. Intinya, tidak perlu menunggu sampai YESUS memperlihatkan Diri-NYA kembali, tetapi kitalah yang berusaha memperlihatkan diri kita kepada-NYA sebagai seorang murid yang berbahagia.
Dalam kehidupan sehari-hari kadang kita optimis dengan semangat yang menggelora. Tetapi pasti juga pernah kita pesimis dan tidak mampu melihat lagi, apa dan bagaimana jalan keluarnya seperti kondisi yang memusingkan kepala seperti pandemi wabah Covid saat ini. Kadang juga kita tidak punya gairah hidup, loyo dan takut serta mau melarikan diri.
St Thomas memberi pengajaran kepada kita agar kita tetap terbuka terhadap jawaban YESUS sendiri. DIA mengundang kita untuk dekat dengan DIA dan mendapat pembuktian Diri-NYA sendiri. Tidak perlu memasukkan jari ke lambung-NYA, melainkan memandang bilur-bilur dan luka-NYA melalui derita nyata dari orang lain. Di saat itu kita dapat mengerti panggilan dan undangan Sang Guru, agar mendekat, menyentuh, kemudian percaya dan bertindak. Di saat kita percaya pasti kita dikuatkan hingga mampu menanggung resiko apa pun seperti dialami para Rasul.
Ya TUHAN, ajarilah aku untuk selalu berani percaya kepada-MU. Teguhkanlah imanku saat aku ragu-ragu dan ingin melarikan diri. Ingatkanlah aku bahwa hanya melalui penderitaan dan kesulitan aku dapat mengatasi kesulitan. St Thomas, doakanlah aku. Amin.
Selamat pagi. Selamat menjalankan aktivitas yang terbatas dengan tetap mematuhi Prokes. Selamat berakhir pekan. Berkat TUHAN
PK/hr.