Mohon Diresapkan Bahwa Kualitas Pemberian Lebih Berharga Dari Pada Kuantitas

*Mohon Diresapkan Bahwa Kualitas Pemberian* Lebih Berharga Dari Pada Kuantitas
Perikop Injil dari bacaan di bawah ini mengangkat dua hal yang perlu kita hayati dan laksanakan : pertama, tentang sikap sombong, gila hormat dan munafik yang harus kita waspadai dan singkiri. TUHAN YESUS bukan benci secara personal kepada para ahli Taurat, tetapi IA sangat tidak berkenan pada sifat dan sikap angkuh, gila hormat dan kemunafikan yang mereka lakukan. Mereka suka pamer memakai jubah panjang, minta dihormati di pasar- pasar, di sinagoga suka duduk paling depan  dan tempat terhormat di meja perjamuan. Mereka  berkepanjangan dan bertele-tele dalam doanya serta mengelabui para janda yang seharusnya dibantu.
Kedua, TUHAN YESUS  menegaskan bahwa DIA sangat menghargai sumbangan dari seorang janda miskin yang telah "memberikan dari kekurangannya". Banyak orang memasukkan uang ke peti persembahan (atau sekarang mentransfer ke rekening gereja) seolah-olah mau berlomba siapa yang paling besar sumbangannya. Pada saat itu di Bait Suci seorang janda miskin hanya memberikan "dua peser, yaitu satu duit", namun dengan hati yang tulus, jujur dan memberikan uang itu semuanya untuk TUHAN. Pujian YESUS kepada  janda miskin itu : "Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab, mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya" (Mrk. 12: 43, 44). Ternyata TUHAN tidak melihat berapa dollar atau rupiah yang kita sumbangkan, melainkan bagaimana ketulusan dan sikap batin kita dalam memberikan sumbangan : dengan pamrih "pamer kekayaan",ingin dipublikasikan, untuk menunjukkan "harga diri" melalui jumlah uang tertentu ataukah dengan hati yang jujur dan tulus kita relakan sumbangan itu sepenuhnya tanpa suatu pamrih apa pun? Tegasnya, TUHAN menghargai ketulusan dan kerelaan hati seseorang untuk memberikan sumbangan (jadi, tidak pelit!). TUHAN tidak melihat kuantitas uang atau materi, melainkan kualitas sikap hati dan batin kita.
Bagaimana kita sendiri bila mau menyumbangkan dana atau materi untuk kepentingan umum yang lebih besar (demi "bonum commune"?

Santo Bonifacius(672-754) yang kita peringati hari ini, adalah seorang kelahiran Inggris yang kemudian secara tulus, penuh tanggung jawab dan pengorbanan, menjadi missionaris ke Jerman. Nama aslinya Winfrid tetapi diberi nama Bonifacius ( =yang berbuat baik) oleh Paus Gregorius II. Karena kerja keras dan keuletannya, ia berhasil dalam misinya. Lalu ia diangkat jadi Uskup Agung di Mainz. Ia banyak membangun biara dan memperbarui kehidupan iman. Ketika pergi ke Frisia ia dihadang oleh orang-orang kafir dan dibunuh dengan pedang. Ia  coba melindungi dengan Alkitab, tetapi pedang itu membelah Kitab Suci itu dan Uskup dibunuh bersama rombongan imamnya.

Bacaan Pertama mengakhiri kisah tentang Tobit yang baik hati, peduli terhadap sesama serta perjalanan panjang Tobia yang dituntun oleh Malaikat Rafael dan berakhir dengan happy ending pada pernikahan yang direstui langsung oleh ALLAH, antara Tobia dan Sara. Sebagai tanda terima kasih, atas saran ayahnya, Tobia mau menyerahkan "separuh dari harta benda yang dibawa" kepada Rafael. Pada akhirnya Rafael dengan jujur membuka "kedoknya" siapakah Dia sebenarnya: "Aku ini Rafael, satu dari ketujuh Malaikat yang melayani di hadapan TUHAN yang mulia" (Tb. 12: 15). Maka terperanjatlah  Tobit dan Tobia, mereka menyembahnya dengan rasa gemetar ketakutan. 

Ada beberapa ajakan Malaikat Rafael yang patut kita perhatikan dan laksanakan : Pertama, kita harus senantiasa memuji dan memuliakan ALLAH atas segala Rakhmat Kurnia-NYA yang begitu melimpah kepada kita masing-masing. Kedua, kita wajib mewartakan segala kebaikan ALLAH. "Memang baiklah rahasia raja disembunyikan, tetapi pantaslah perbuatan ALLAH disingkapkan dan dimuliakan" (ayat 7). Jadi segala karya agung ALLAH harus mampu kita bagikan dan wartakan kepada semua orang, sehingga mereka percaya  dan mengakui keagungan dan keluhuran-NYA. Ketiga, dua hal yang juga ditekankan Malaikat Rafael, yaitu tentang doa dan sedekah : "Lebih baiklah doa benar dan sedekah jujur daripada kekayaan yang lalim. Memang sedekah melepaskan dari maut dan menghapus setiap dosa. Orang yang melakukan sedekah akan menjadi puas dengan umurnya" (ayat 8 dan 9). Dengan nasihat dan catatan-catatan itu, Rafael akhirnya membuka diri sejujurnya bahwa Dia itu adalah Malaikat yang diutus oleh ALLAH untuk menyembuhkan Tobit yang buta dan Sara, menantu Tobit yang terbelenggu setan Asmodeus.  

Maka, tidaklah mengherankan bila Gereja mengajarkan bahwa Malaikat Rafael adalah salah satu Malaikat Agung, di samping Mikael dan  Gabriel, yang diangkat sebagai Malaikat Penyembuh serta Malaikat Penuntun dan Pelindung dalam setiap perjalanan. Bagi mereka yang sedang menderita sakit  - khususnya penderita wabah pandemi Covid 19 -  atau sedang dalam perjalanan, serahkanlah semua itu dalam lindungan dan pertolongan Malaikat Rafael, niscaya akan disampaikan kepada dan didengar oleh ALLAH.

Ya YESUS, ajarilah aku agar tetap rendah hati, dan tuntunlah aku dalam memuji dan meluhurkan BAPA di Surga, serta ajarilah aku untuk rela dan bermurah hati dalam memberikan sumbangan untuk kepentingan umum. Santo Bonifacius, doakanlah kami. Amin. (Bacaan:* Tb. 12: 1, 5-15,20; -  * Mrk. 12: 38 - 44.)
Ikuti terus renungan berkualitas di

Selamat pagi. Selamat beraktivitas pada akhir pekan. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr
 🆁🅰🅶🅸 Sabtu 5 Juni 2021 
Peringatan Wajib St Bonifacius, Uskup & Martir: 
* Tb. 12: 1, 5-15,20;
* Mzm. Tnggpn. Tb.
   13: 2, 6, 7, 8;
 * Mrk. 12: 38 - 44.
Hari Sabtu Imam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak