Apa Pun Terjadi, Allah Tetap Peduli Akan Manusia


*Apa Pun Terjadi, Allah Tetap* 
*Peduli Akan Manusia*

*Sebagai umat beriman, kita semua percaya dan yakin* bahwa ALLAH senantiasa peduli, memperhatikan dan menyertai umat-NYA, betapa pun umat ini berdosa! Namun, sering kali keraguan muncul ketika kita berhadapan dengan kejadian yang amat memukul dan sangat menyakitkan. Kita kadang tergoda untuk bertanya, apakah TUHAN sungguh peduli pada kita? Apakah DIA mendengarkan doa kita? Atau sudahkah DIA meninggalkan kita?
*Perasaan was-was inilah yang dialami bangsa Israel* ketika mereka dalam pembuangan di Babel seperti dikisahkan dalam Bacaan Pertama. Melalui Nabi Yesaya, TUHAN menegaskan bahwa DIA tetap menyertai mereka. DIA sangat peduli, memberikan kelimpahan dan mencukupi kebutuhan mereka. DIA tidak akan melupakan dan meninggalkan mereka. Untuk menguatkan iman mereka, TUHAN berfirman: "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya AKU tidak akan melupakan engkau!" (Yes.49:15).
Maka, cinta kasih dan kepedulian ALLAH jauh melampaui cinta seorang  ibu kepada anaknya! 

*Jadi, kita tidak perlu khawatir, sebab TUHAN akan menjawab* bila kita berseru kepada-NYA; DIA akan menolong kita setiap kali kita membutuhkan-NYA. Yesaya melukiskan tentang orang-orang yang terkurung, DIA akan datang dan berkata: Keluarlah! Dan kepada mereka yang berada di dalam kegelapan, IA akan menghampiri dan  bersabda: Tampillah! Di sepanjang jalan mereka akan menjadi seperti domba yang tidak pernah kekurangan rumput. Mereka tidak akan menjadi lapar dan haus, sebab ALLAH, Yang Maha Penyayang, akan memimpin dan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air. (lihat ayat 9,10).

Pemazmur memperkuat iman kita dengan menegasksn: TUHAN itu Pengasih dan Penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-NYA. TUHAN itu baik kepada semua orang dan penuh rakhmat terhadap segala yang dijadikan-NYA" (Mzm. 145:8,9)  

*Kita tidak cukup hanya mengagumi Kasih ALLAH yang begitu agung.* Kekaguman itu harus dapat kita wujudkan dalam aksi nyata  dengan membuktikan kepedulian kita kepada saudara-saudara yang terhimpit dan yang sengsara dalam kemiskinan, penderitaan sakit yang berkepanjangan dan pengangguran karena di PHK akibat pandemi serta berbagai kesengsaraan akibat adanya tekanan batin karena dikucilkan dan lain-lain. 
Sudahkah semua itu kita kerjakan pada Masa Prapaskah ini?

*Dalam perikop Injil di bawah ini TUHAN YESUS bersaksi* tentang relasi Diri-NYA dengan BAPA di Surga. "Sesungguhnya, ANAK tidak dapat mengerjakan sesuatu dari Diri-NYA sendiri, jikalau tidak IA melihat BAPA mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan BAPA, itu juga dikerjakan ANAK... Sebab sama seperti BAPA membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga ANAK menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-NYA" (Yoh. 5:19,21).

*Karena itu, YESUS menegaskan: "BAPA-KU bekerja sampai sekarang,* maka AKU-pun bekerja juga" (ayat 17). Tampaknya "pekerjaan ALLAH" itu menakutkan bagi mereka yang iri hati, dengki dan berpikiran picik dan sempit. Itulah yang terjadi di dalam masyarakat Yahudi yang menuduh YESUS telah menyamakan Diri-NYA dengan ALLAH. DIA akan dibunuh karena menjalankan "pekerjaan ALLAH" berarti menurut mereka DIA telah menghojat ALLAH! 

Apabila kita saat ini meneruskan "pekerjaan ALLAH" dan mendapat tentangan dan hambatan dari masyarakat, apa yang akan kita lakukan? Tetap konsisten berbuat kebaikan terus atau menyerah kalah?

*"Pekerjaan ALLAH" tidak tertuju untuk kepentingan perorangan* atau upaya penjilatan terhadap tokoh tertentu, melainkan untuk kebaikan dan kesejahteraan umum (bonum commune): kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat tanpa membeda-bedakan asal usul, ras, agama atau status sosial. Yang penting adalah suasana damai, rukun, bersahabat dalam keluarga besar bangsa  kita yang plural ini  dengan dasar saling menghormati,  menghargai, dan menjunjung tinggi kearifan lokal yang terdapat dalam berbagai budaya dan daerah, serta  berani melawan arus yang membawa perpecahan dan keretakan dalam masyarakat. Kiranya kita dapat mencegah dan mengatasi segala fitnah, rasa iri, dengki dan semua perasaan negatif yang  dapat menjadi penyakit dalam masyarakat.  
Siapkah diri kita melakukan "pekerjaan ALLAH" dengan resiko menghadapi segala tantangan situasi seperti itu?

BAPA di Surga, puji syukur dan terima kasih atas Penyelenggaraan Ilahi-MU kepadaku dan anak-anak-MU semua. Turunkanlah ROH KUDUS- MU agar aku berani melakukan "pekerjaan ALLAH", yaitu melakukan kebaikan, menegakkan kebenaran, keadilan, kesejahteraan dan kedamaian bersama. Amin. Mari Terus Ikuti Renungan  (Baca:• Yes.49: 8-15  dan  • Yoh. 5: 17-30.)

source : 
Selamat pagi. Selamat menjalani Retret Agung. Selamat beraktivitas. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr
 🆁🅰🅶🅸 Rabu 17 Maret 2021 
Hari Biasa Pekan IV Prapaskah : 
• Yes.49: 8-15;  
• Mzm. 145: 8-9, 13cd-14, 17-18;  
• Yoh. 5: 17-30.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak