Sumber Kekuatan Hidup Manusia
Dunia kehidupan kita diliputi oleh berbagai kecenderungan jahat. “Siapakah yang dapat mengalahkan dunia seperti itu?” Yang mengalahkannya adalah orang yang percaya pada Yesus Kristus. Menerima Yesus dengan seluruh hakikat pribadi-Nya merupakan sumber kekuatan bagi orang Kristiani. Demikianlah pokok iman yang disampaikan oleh Rasul Yohanes, murid yang disayangi Tuhan, dalam Bacaan pertama hari ini.
Yesus yang kita percayai adalah Putra Allah yang “datang bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah,” (1 Yoh 5:6). Artinya, Yesus adalah Putra Allah bukan hanya pada saat Allah Bapa dan Roh Kudus menyatakan hal itu ketika Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan (air) – untuk mengawali karya-Nya di depan umum. Hakikat Putra Allah itu juga tetap ada ketika Ia mengurbankan diri di kayu salib (darah). Oleh karena Yesus yang disalib itu Putra Allah yang menjadi manusia, maka pengurbanan-Nya mempunyai daya penebusan dan menjadi silih bagi dosa-dosa dunia. Seluruh hidup, karya dan pengurbanan diri Yesus Putra Allah menjadi sumber kekuatan iman kita.
Kita juga diingatkan, ketika Yesus tergantung di salib, setelah Ia menundukkan kepala dan menyerahkan Roh-Nya ke bumi, useorang serdadu menikam lambung-Nya, maka keluarlah darah dan air (Yoh 19:34 dst.). Roh Kudus , darah (Ekaristi) dan air (Baptisan) itu adalah dasar kehidupan Gereja Perjanjian Baru.
Percaya pada Yesus sebagai Putra Allah berarti menerima kesaksian yang berasal dari Allah sendiri: yaitu bahwa lewat karya dan pengurbanan Yesus, “Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.” Maka, “barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup,” (1 Yoh 5:11-12). Perkataan ini bukan hanya pernyataan yang harus diterima begitu saja. Ini merupakan kenyataan yang dapat dialami, dan harus dialami. Dengan mengalaminya kita menjadi tahu bahwa pernyataan itu sungguh benar.
Berulang kali Tuhan Yesus bersabda, bahwa Ia datang untuk memberikan hidup kepada dunia, dan kita tahu dari pengalaman, bahwa barang siapa menyerahkan hidupnya kepada Yesus dan kepada Injil-Nya, ia benar-benar mengalami hidup itu. Hidup yang dari Allah itu terbuka bagi semua orang, asalkan kita, dengan penuh iman dan percaya, menyerahkan diri kepada Tuhan.
Pengalaman menerima hidup baru itulah yang terjadi pada seorang penderita kusta, ketika ia dijamah oleh tangan Tuhan.
Penderitaan paling berat yang dialami penderita kusta pada zaman dulu adalah situasi terkucil dari masyarakat, baik dari kumpulan sosial maupun dari kegiatan ibadat. Protokol jaga-jaraknya sangat ketat: kalau ada orang lain mendekat, penderita kusta diwajibkan berteriak, “Aku najis!”
Dalam Bacaan Injil hari ini, seorang penderia kusta datang kepada Tuhan Yesus karena ia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan penyakit. Penderita kusta itu tersungkur di depan-Nya seperti layaknya orang tersungkur di hadapan Allah. Ia percaya bahwa Yesus adalah Mesias Sang Juruselamat. "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (Luk 5:12). Ia tidak minta untuk disembuhkan, melainkan untuk “ditahirkan” (dibersihkan), karena ia dianggap najis.
“Yesus mengulurkan tangan-Nya,” seperti tangan Yahwe yang menyelamatkan; atau seperti tangan Musa ketika ia menyibakkan air laut untuk membebaskan umat Israel. Yesus menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
"Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam.” Orang yang sudah ditahirkan itu harus dinyatakan tahir secara Hukum (lihat Im 14:1-32). Selanjutnya ia dapat dengan bebas masuk ke lingkungan masyarakat. Penyembuhan kustanya bukan hanya penyembuhan secara fisik. Ia benar-benar mengalami pembaharuan hidup, pembangunan kembali seluruh pribadinya.
– Kita pun dapat mengalami penyembuhan hidup dari bermacam penyakit kita, asalkan kita bertobat dan berserah diri pada Tuhan.
Selanjutnya, kita juga dapat bertanya, siapa “orang kusta” pada zaman sekarang? Di setiap masyarakat masih ada orang yang diperlakukan seperti penderita kusta: orang yang dihindari, dimarginalkan, atau dikucilkan karena suatu alasan tertentu.
Kita banyak mendengar orang yang diisolasi karena covid-19. Lebih dari itu, sebagian masyarakat kita tersingkir dan dihindari orang karena dianggap “hina”, “tidak layak” atau “tidak sederajat” sebagai manusia: misalnya para gelandangan, para pecandu narkoba, penderita kelainan jender, para diffable secara mental ataupun fisik. Orang yang diperlakukan seperti orang kusta itu boleh jadi juga kita temukan bahkan di lingkungan kerja, lingkungan komunitas dan dalam keluarga kita sendiri. Apa tindakan kita selama ini?
Kita mesti ingat bahwa dunia Tuhan Yesus bersifat inklusif, terbuka, “mengulurkan tangan” untuk “menjamah” orang yang tersingkir. Kita para murid-Nya dipanggil untuk melakukan hal yang sama.
Ya Tuhan Yesus, bimbinglah aku untuk semakin menyadari kehadiran-Mu di tengah kesibukanku. Biarkan aku menimba kekuatan hidup dari kuasa-Mu dan meneladan Hati-Mu yang terbuka pada saudara-saudaraku yang tersingkir dari masyarakat. Amin. (Bac: • 1Yoh. 5:5-13; dan • Luk 5:12-16 )
Ikut Terus Renungan kami di SOS.TopSekali.com
Selamat pagi. Selamat beraktivitas. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr
🆁🅰🅶🅸 Jumat 8 Januari 2021
Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan
• 1Yoh. 5:5-13;
• Mzm. 147:12-13, 14-15, 19-20;
• Luk 5:12-16
