Masa persiapan Paska dulu disebut Masa Puasa. Sebutan itu kini dinilai kurang cocok sebab dapat mengarahkan kita pada fokus yang kurang tepat. Seakan hal yang kita utamakan dalam masa ini adalah pantang dan puasa: mengurangi makan dan pantang makanan tertentu, tidak merokok dan sebagainya. Bacaan Suci hari ini mengajak kita untuk memperhatikan hal yang lebih mendasar dari itu.
Dalam Bacaan Injil, murid-murid Yohanes Pembaptis bertanya kepada Yesus, "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Alasan yang diajukan Yesus adalah bahwa tidak sepantasnya "sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka.” Mempelai itu adalah Tuhan Yesus, dan selama Ia hadir di dunia, suasananya penuh syukur dan sukacita. Berpuasa adalah tanda berdukacita, tidak cocok untuk dilakukan selama Yesus mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah, yang digambarkan seperti pesta kawin.
Yesus tidak menolak praktik puasa. Ia sendiri berpuasa di gurun selama empat puluh hari. Tetapi puasa itu diikuti dengan hal yang jauh lebih penting. Selama hidup bersama Yesus, mendengarkan ajaran dan menyertai karya kasih-Nya, para murid diarahkan pada sesuatu yang lebih dalam dan lebih mendasar daripada puasa: yaitu menjumpai orang-orang untuk membawa kegembiraan, kesembuhan, penghiburan, kebebasan dan kelegaan pada kehidupan mereka. Yesus memberi teladan bahwa hidup kita ini sepenuhnya untuk orang lain.
Puasa dapat membawa orang untuk terpusat pada diri sendiri, seperti pada orang Farisi. Tetapi Yesus juga mengatakan: ketika Ia beralih dari dunia ini para murid-Nya akan berpuasa. Puasa kita lakukan sebagai silih, tobat dan pemurnian hati. PUASA mengingatkan kita bahwa Tuhan sumber sukacita itu ikut menderita dalam diri “saudara-saudara-Nya yang paling hina” (Mat 25:40), dan ”saudara yang paling hina” itu ada di sekitar kita. Kita dipanggil untuk solider dengan mereka.
Seiring dengan puasa, DOA yang benar juga membawa kita dekat pada Tuhan dan dekat pada sesama, khususnya sesama yang menderita. Doa memang membawa kita masuk ke dalam diri kita sendiri: pengharapan kita, kehendak kita, rasa syukur kita. Tetapi, kedalaman batin itu mesti mengarah pada TINDAKAN luar: menyatakan kepedulian penuh kasih pada orang yang lemah dan menderita. -- Lewat seluruh proses tadi, kita dibawa untuk "semakin mengasihi, semakin terlibat dan semakin menjadi berkat."
Sejalan dengan bacaan Injil, pada Bacaan pertama, Nabi Yesaya menyerukan panggilan agar umat menghidupkan semangat di dalam hati untuk mengimbangi praktik keagamaan yang tampak di luar.
Pada zaman Yesaya, umat Israel menganggap dirinya sudah saleh dan benar, dan mempertanyakan, mengapa Tuhan tidak juga mendengarkan doanya. "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Jawaban Tuhan sangat tegas dan kuat bagaikan bunyi terompet.
Tuhan memandang puasa dan perendahan diri umat itu hanya bentuk luar yang kosong: dengan menundukkan kepala, membentangkan kain karung dengan taburan abu sebagai alas tidur, supaya tampak hina dan pantas dikasihani. Sementara itu, mereka tetap bertengkar satu sama lain, melakukan tindak kekerasan, dan mengeksploitasi pekerja yang tertindas.
Puasa yang dikehendaki Tuhan adalah sesuatu yang sangat berbeda: yaitu melepaskan belenggu ketidakadilan dengan melepaskan orang yang ditindas dan dieksploitasi, memberi makan dan pakaian kepada orang yang berkekurangan, dan ikut bertanggung jawab mengurus saudara yang perlu bantuan.
Seruan Nabi Yesaya itu ditulis ribuan tahun silam, tetapi kritik dan pesannya masih sangat relevan untuk dunia modern sekarang. Seruan itu juga diulang oleh Tuhan Yesus lewat ajaran dan karya kasih-Nya.
Mari kita tuntaskan puasa, tobat dan syukur kita dengan memberi uluran kasih pada orang yang berkekurangan, dan memperlakukan setiap orang dengan hormat dan menjaga martabatnya. “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera.” (Yes 58:8). Dengan berbuat kasih kita disembuhkan dari luka akibat dosa, luka akibat kurangnya kasih dan kurangnya tanggung jawab; luka akibat tindakan munafik dan praktik keagamaan yang keliru.
Ya Tuhan Yesus, bantulah agar puasa kami bukan hanya kesalehan luar. Kobarkanlah semangat kasih dalam hati kami, agar pengalaman rohani selama berpuasa kami wujudkan dalam tindakan kasih, sebagaimana Kauajarkan kepada para murid-Mu dan dilanjutkan oleh Gereja. Amin.
Ikuti Terus Renungan Dari
Selamat menjalani masa Prapaska. Selamat beraktivitas. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr
🆁🅰🅶🅸 Jumat 19 Februari 2021
Hari Jumat Sesudah Rabu Abu – Hari Pantang
• Yes. 58:1-9a;
• Mzm. 51:3-4.5-6a.18-19;
• Mat. 9:14-15.
